Aku tersentak dari tidurku, nafasku terasa sesak. Aku melirik jam tanganku yang menunjukkan waktu telah berlalu seperempat hari. Langit masih berusaha mencegah bulan pergi, dan kabut dingin masih bertengger di celah-celah angin. Aku terduduk diam dan menatap langit-langit, berusaha menarik udara masuk ke paru-paruku. Berusaha mengingat dan mengumpulkan remah-remah dari mimpiku. Paru-paruku aku kosongkan lagi, lalu kuisi lagi. Berulang-ulang hingga aku bisa merasa lebih tenang. Begitu sulit kulakukan seolah-olah bernapas hanyalah kegiatan di waktu luang. Jantungku berdetak tak teratur, seperti nyanyian balita yang tak mengenal tempo. Aku yakin keadaan ini bukan karna semalam aku tidak makan, dan bukan juga karna jemu melihat serangga asing yang sejak tadi malam mondar-mandir di langit-langit kamar.
Aku memungut remah terakhir dari mimpiku, aku mengingatnya. Bukan mimpi buruk, hanyalah mimpi yang sama dengan hari-hari sebelumnya yang aku takutkan itu terjadi. Aku melepas teman sekamarku untuk pergi ke Universitas yang dia inginkan, sedangkan aku berdiri terpaku di halte yang membeku. Hanya mematung dan merasakan kesedihan dan kekecewaan dalam hatiku. Aku tak yakin rasa sedih dan kecewa itu hadir karna apa. Namun sepertinya bagian kecil haiku yang saat ini tidak ingin aku percaya bisa menerka. Ya, aku terdiam karna aku tidak bisa meraih ke tempat yang aku inginkan. Ntahlah, aku hanya tidak tahu apakah aku harus mengikuti mimpiku atau kucoba menentangnya.
Bukannya aku takut tantangan, hanya saja ada pemikiran-pemikiran lain yang terlintas di benakku. Aku tau dan paham, tidak ada jalanan mulus tanpa kerikil. Tak ada jalan yang hanya lurus tanpa tikungan-tikungan tajam. Hanya saja...
Aku bertanya-tanya. Apakah aku bisa melompati batuan itu jika mereka terlalu tinggi? Dan jika aku gagal dan terjatuh, apakah aku bisa bangkit lagi? Dan jika aku mampu untuk bangkit, apakah aku mampu berjalan tanpa wajah tertunduk melewati mereka yang melihatku dengan tatapan-tatapan itu? Andai saja aku bisa seperti diriku yang dulu. Tetap mencoba belajar berjalan walaupun terjatuh berulang kali. Tanpa menghiraukan tatapan dan goresan-goresan di kaki dan tanganku. Namun yang membuatku selalu dapat bangkit dan berjalan lagi adalah tangan-tangan dan senyum-senyum itu. Menepuk, menarik, dan membimbingku. Tetap tersenyum dan menyemangatiku walaupun aku gagal ntah berapa kali. Akankah ada lagi tangan-tangan dan suara-suara yang menguatkanku? Akankah mereka tetap tersenyum ketika aku terjatuh dan mencoba bangkit?
Entahlah, aku tak tahu. Bukankah kita telah memiliki dan berjalan di jalan masing-masing? Aku dijalanku, dan mereka berjalan di jalan mereka. Entah mereka akan menghampiriku ketika aku terjatuh atau tidak, itu pilihan mereka. Bukan sesuatu hal yang bisa aku putuskan dan aku paksakan.
Waktu telah menegur. Langit harus merelakan bulan pergi dan menyambut kedatangan mentari. Kabut-kabut dingin pun mengejar perginya bulan, meskipun ada beberapa yang masih betah bertengger di celah-celah itu. Aku pun menyadari, cukup sudah nostalgiaku dengan mimpiku yang telah berlalu. Terjadi atau tidak itu adalah pilihan dan keputusanku. Akan membiarkannya terjadi atau mengukir jalanku sendiri.
Aku masih beruntung memiliki pilihan dan kuas di tanganku. Entah apa jadinya lukisan ini nanti, biarlah waktu yang mengungkapkan.
=A.D=
No comments:
Post a Comment