Friday, December 27, 2013

Nelangsaku pagi ini

Aku tersentak dari tidurku, nafasku terasa sesak. Aku melirik jam tanganku yang menunjukkan waktu telah berlalu seperempat hari. Langit masih berusaha mencegah bulan pergi, dan kabut dingin masih bertengger di celah-celah angin. Aku terduduk diam dan menatap langit-langit, berusaha menarik udara masuk ke paru-paruku. Berusaha mengingat dan mengumpulkan remah-remah dari mimpiku. Paru-paruku aku kosongkan lagi, lalu kuisi lagi. Berulang-ulang hingga aku bisa merasa lebih tenang. Begitu sulit kulakukan seolah-olah bernapas hanyalah kegiatan di waktu luang. Jantungku berdetak tak teratur, seperti nyanyian balita yang tak mengenal tempo. Aku yakin keadaan ini bukan karna semalam aku tidak makan, dan bukan juga karna jemu melihat serangga asing yang sejak tadi malam mondar-mandir di langit-langit kamar.

Aku memungut remah terakhir dari mimpiku, aku mengingatnya. Bukan mimpi buruk, hanyalah mimpi yang sama dengan hari-hari sebelumnya yang aku takutkan itu terjadi. Aku melepas teman sekamarku untuk pergi ke Universitas yang dia inginkan, sedangkan aku berdiri terpaku di halte yang membeku. Hanya mematung dan merasakan kesedihan dan kekecewaan dalam hatiku. Aku tak yakin rasa sedih dan kecewa itu hadir karna apa. Namun sepertinya bagian kecil haiku yang saat ini tidak ingin aku percaya bisa menerka. Ya, aku terdiam karna aku tidak bisa meraih ke tempat yang aku inginkan. Ntahlah, aku hanya tidak tahu apakah aku harus mengikuti mimpiku atau kucoba menentangnya.

Bukannya aku takut tantangan, hanya saja ada pemikiran-pemikiran lain yang terlintas di benakku. Aku tau dan paham, tidak ada jalanan mulus tanpa kerikil. Tak ada jalan yang hanya lurus tanpa tikungan-tikungan tajam. Hanya saja...

Aku bertanya-tanya. Apakah aku bisa melompati batuan itu jika mereka terlalu tinggi? Dan jika aku gagal dan terjatuh, apakah aku bisa bangkit lagi? Dan jika aku mampu untuk bangkit, apakah aku mampu berjalan tanpa wajah tertunduk melewati mereka yang melihatku dengan tatapan-tatapan itu? Andai saja aku bisa seperti diriku yang dulu. Tetap mencoba belajar berjalan walaupun terjatuh berulang kali. Tanpa menghiraukan tatapan dan goresan-goresan di kaki dan tanganku. Namun yang membuatku selalu dapat bangkit dan berjalan lagi adalah tangan-tangan dan senyum-senyum itu. Menepuk, menarik, dan membimbingku. Tetap tersenyum dan menyemangatiku walaupun aku gagal ntah berapa kali. Akankah ada lagi tangan-tangan dan suara-suara yang menguatkanku? Akankah mereka tetap tersenyum ketika aku terjatuh dan mencoba bangkit?

Entahlah, aku tak tahu. Bukankah kita telah memiliki dan berjalan di jalan masing-masing? Aku dijalanku, dan mereka berjalan di jalan mereka. Entah mereka akan menghampiriku ketika aku terjatuh atau tidak, itu pilihan mereka. Bukan sesuatu hal yang bisa aku putuskan dan aku paksakan.

Waktu telah menegur. Langit harus merelakan bulan pergi dan menyambut kedatangan mentari. Kabut-kabut dingin pun mengejar perginya bulan, meskipun ada beberapa yang masih betah bertengger di celah-celah itu. Aku pun menyadari, cukup sudah nostalgiaku dengan mimpiku yang telah berlalu. Terjadi atau tidak itu adalah pilihan dan keputusanku. Akan membiarkannya terjadi atau mengukir jalanku sendiri.

Aku masih beruntung memiliki pilihan dan kuas di tanganku. Entah apa jadinya lukisan ini nanti, biarlah waktu yang mengungkapkan.


=A.D=

Thursday, December 26, 2013

Precious People in my Life

Leaves are gone. Branches just starring at the sky, feels that cold wind blows its face. Just cold, loneliness, and silence. I keep walking and seeing people walk through me. Leave me like a dry branches in the middle of freezing winter. Yeah seems like that.

It's too hard until i feel i can't breath. The air pass hardly through my lungs. The air feels harder and heavier. Leaving scars and scratches in every breath i take. For the god's sake, i miss her
I just wanna touch and talk directly even just a single "Hi". Everything makes no sense.

And they four, who always cheer me up, they aren't with me right now. I miss them too. How dare you all leave me like this?? Having vacation without me!

10 hari mereka pergi kayak sebulan. Semua kebisingan itu lenyap seketika. Mereka membawa semua pergi dan menyisakan keheningan dan kekosongan disini, bersamaku, disekelilingku. Sunyi.

 Abi Fakhri Ramadhan. Yang paling berusaha buat punya ketawa serem tapi ngga pernah bisa. Punya posisi tidur paling aneh yang bisa berganti setiap kita noleh. Seseorang yang menurutku paling harus ada, atau gak semua bakal flat. Paling ribut, paling ngga bisa diem, tapi paling keren kalau lagi serius. Dan satu lagi, walaupun abi keliatannya cuek banget, tapi sebenernya baik dan care banget. Kayaknya sih


Mohammad Dany. Mein netter Bruder, mein boschafter Bruder, und auch mein lieber Bruder. Yang cinta banget sama dunia fotografi, desain, dan seorang movie maker. Orang yang menurutku paling susah ditebak. Bang Dany itu bisa jadi orang paling pendiam, keep calm, dan berwajah baik-baik. Tapi tunggu beberapa saat kemudian, kita bisa ngeliat dia berubah onehundredeighty degree. Ribut, semua perkataan dijadiin lagu, usil setengah mati, dan satu lagi yang ngga bisa dilupain. Muka sama ketawanya yang psikopat abiisss. Dan bang dany itu orang yang paling bisa ngebuat aku nyaman.

Yoha Taufiqul Hafiz Mofia. Kalau mau ngetik namanya, terpaksa harus ngecek dulu di buku tahunan, mastiin bener atau ngga. Om Apis itu om yang paling keren, fashionista, lucu, baik, dan paling cerewet. Paling suka ngebanggain kalau kulitnya itu putih dan selalu bilang, "Apis itu ganteng, kata mami apis". Ngga sih, om aku ini emang keren kok. Om apis yang menurutku orang yang paling enak dijadiin tempat curhat, tempat nangis, dan orang yang paling tepat buat dimintain solusi. Kalau lagi ada masalah, om apis selalu bisa jadi "pangeran berkuda putih" yang selalu menenangkan.

And the last one, Fuad Hamzah. Pamanku yang menurutku paket lengkap. Wieso?? Karna paman ini bisa semua. Main gitarnya keren, suaranya baguuus banget, bisa masak, jago basket, wajah cool (tapi ngga banget kalo udah main DOTA), shalatnya rajin, pokoknya lengkap. Dan satu lagi yang paling penting, bisa nyukur rambut *jan ngecek ang lai*. Tapi paman juga orang yang paling melankolis, yang bisa nangis kalo lagi nyanyi buat tante, pacarnya paman.


Setiap hal-hal yang aku ingat dari mereka kadang bisa membuat aku ketawa sendiri, geleng-geleng, guling-guling, dan ujung-ujungnya nangis sendiri kalo ingat kita bakal pisah. Anugerah dari Tuhan aku bisa bertemu dengan mereka.

Precious people, and my new family that i really love. I just feel that i'm so lucky and i'm grateful for it. Your existence already bring warmth, and smile in my life. Thanks for give me chance to know all of you.
I love you all :)

Trip to Kaiserslautern

Well, actually it's a little bit latepost. It has been 3 days ago.

Okay, I have to say that it wasn't a vacation at all. It just a trip for survey. We will have an exam here in Kaiserslautern. Yeah you know, we need to know where we can sleep and where we can eat with low price. Actually it was too early to go, because the exam is on 18th February.

From Aachen to KL takes around 5 hours. With 3 times "umsteigen".
First, we went from Aachen Hauptbahnhof to Köln. Itu tempat transit kita yang pertama. Disitu kita punya waktu 30 menit. Jadi ya bisa muter-muter bentar or just taking some photos.









Then the next stop is Bingen. There's nothing too special about this place. But one thing that I remember. We only had 5 minutes to take the other one. Godness, I just couldn't breath for a while because we had to run so fast to catch it.

Okay and tadaaa kita sampai di Kaisereslautern yang terletak di Southwest nya Jerman. KL ini nama Bundesland nya Rhineland. Beda sama Aachen itu nama Bundeslandnya NRW.

Eigentlich beides sind gleich. Aber ja, für mich Aachen ist schöner und sauberer. Ich liebe Aachen natürlich.

Sampai di KL senior yang bersedia mengorbankan tempat tinggalnya udah datang buat jemput kita. We went to her house for take a look. Went around the city and then yaaa went back to Aachen.

Not so exciting, but yeah it was better that I have to stuck in my bed :)

Wednesday, December 25, 2013

This warmth and you

Sun shines brightly in Aachen. It brings warmth and all those things that makes me forget this coldness and loneliness for a second









Someday but for sure I will bring my mom here and make her watch all these things with her own eyes.

I will do it and pass it. I will try a bit longer to breath without you to bring your smile with me.
And I hope the time will come.. soon

113 days, 2712 hours, 162720 minutes, 9763200 seconds

113 days
Sudah 113 hari berlalu sejak kedatanganku disini, Jerman, Aachen. Musim gugur telah meninggalkanku pergi, membawa daun-daun kering dan memori-memori itu bersamanya. Ranting-ranting itupun kini menyepi. Sama seperti aku yang merebahkan diri di tempat tidurku yang nyaris nyaman dengan selimutku yang cukup hangat. Sesekali menatap keluar jendela, berharap salju turun.

There's no White Christmas. Hanya butiran-butiran salju turun beberapa hari sebelum Natal, yang segera meleleh sesaat menyentuh tanah. Sepi,sunyi... seperti kota mati yang kehilangan suara. Hanya beberapa bisik dan suara tapak-tapak kecil yang terdengar untuk sesaat.

There's no warm hand and that sense from my mom. Potongan-potongan memori itu selalu terlintas dalam nelangsaku. Terkadang menyusup masuk dalam mimpiku. Membuatku hatiku selalu berkata, aku ingin pulang. Hanya untuk sesaat ingin memeluknya dan menyentuhkan jemariku di pipinya. dan membiarkan jemarinya menelusuri jejak air mataku yang mengering. Demi apapun aku merindukannya.

God reminds me not for that reasons. Aku sadar, semua ini bukan alasan untuk membuatku lemah. Bukan alasan untuk membuatku berhenti. The past has been finding its way in. Masa lalu bukan untuk dilupakan ataupun melemahkan. Tapi untuk dikenang dan memberikan alasan agar kita bisa hidup semakin kuat.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            #S.D
 k